Summer Breeze
Author: RuuStaring: Hikaru Yaotome, Rei Kanazawa (OC Dea) dll
Gendre: Romance
Warning! Ni penpik geje bgt. Ga bgtu gw edit lagi, males xp berhub yang minta dah nyuru-nyuru buat ngepost,ya d post aja dah xDDDD
Gw g bertanggung jawab dengan keanehan yg ada xp
Sebal! Hanya 1 kata itu saja yang sedari tadi di gumamkan oleh Rei. Mau bagaimana lagi, emosinya sudah memuncak. Berlibur di pinggir pantai bersama teman-teman yang se-ha-rus-nya menyenangkan berbalik arah menjadi menyebalkan. Sudah 2 hari ini Rei bermuka masam. Kekasih yang baru di pacarinya selama 1 bulan penyebab semua ini. Yaotome Hikaru.
Ya. Di sini. Di penginapan yang sudah di Booking sejak 1 hari lalu. Kanazawa Rei, Motomiya Kaoru beserta para pria. Yaotome Hikaru, Yabu Kouta dan Inoo Kei. 5 mahasiswa Universitas Meiji tingkat 2 yang sudah berteman akrab sejak SMA. Memutuskan untuk menghabiskan waktu musim panas selama 3 hari dengan menyewa penginapan di pinggir pantai. Melepas penat akan tugas dan kegiatan kampus yang menyita waktu.
Jika saja...
Ya, jika saja kejadian itu tidak pernah ada dan semuanya bisa bersenang-senang sesuai dengan rencana...
Hembusan nafas berat keluar dari hidungnya. Rei kembali menatap lurus ke arah laut lepas di depannya.
”Baka!”
***
Sehari sebelumnya
”Kitttaaaaaa!!!!! Umiiiiii” Hikaru langsung loncat menapaki pasir begitu tiba di pantai dengan.
DRAK! DRAK! DRAK!
Di susul senyuman penuh kegembiraan dari ke 4 eksistensi yang baru saja keluar dari mobil.
”Inoo chan, sudah booking tempat?” Yabu mengambil tas dan segera mengunci mobilnya.
”Tentu saja. Ayo” Inoo menggiring ke 4 temannya menuju tempat penginapan.
”YOSH!!! Ikou!” Hikaru mengeluarkan handycam-nya dan mulai merekam teman-temannya dari belakang.
Petugas penginapan mengantarkan mereka menuju sebuah rumah kecil bermaterialkan kayu yang menghadap ke arah laut. Di dalamnya terdapat 2 kamar yang dipisahkan oleh 1 kamar mandi dan 1 ruang tamu lengkap dengan TV layar datarnya. Memang agak Lux, untuk ukuran kantong mahasiswa. Tapi tidak apa, toh ini hanya sekali dalam setahun.
Rei dan Kaoru sekamar, dan pastinya para pria sekamar. Cukuplah 1 tempat tidur besar untuk orang berbadan kurus seperti mereka bertiga itu.
Setelah meletakkan semua barang bawaan, mereka berlima memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di sepanjang pantai. Karena sekarang lagi musim liburan, jadi banyak juga orang-orang selain mereka yang berlibur disini. Menghabiskan waktu dengan keluarga atau dengan teman-temannya.
”Wooaahhhh lihaattt.... banyak gadis berbikini!” Inoo begitu exited dan menyikut perut Yabu pelan. Cukup untuk membuat Yabu engeh, dia lah yang sedang di ajak bicara. Yabu cukup merespon dengan cengirannya yang biasa.
”EHEM!!” Para gadis memberikan peringatan
Bagi Rei, tentu saja dia tidak ingin jika Hikaru ikut-ikutan Yabu atau Inoo melirik gadis lain selain dirinya. Sedangkan Kaoru, dia memberikan peringatan kepada pacarnya sendiri―yang akhir-akhir ini banyak di gosipkan dekat dengan cewek lain di kampus, Yabu Kouta.
Dasar pria!
Inoo chan itu memang harus di rantai! Setidaknya itulah yang dipikirkan para gadis setiap kali Inoo menyimpang.
Panorama laut biru membentang sepanjang mata memandang. Ombak yang tidak terlalu besar, cukup membuat orang-orang berani bermain air hingga 10 meter dari bibir pantai. Pantai. 1 kata yang pasti tersebut setelah mendengar kata 'musim panas'.
”Ayo kita surfing!” Hikaru melihat ada tempat penyewaan papan selancar tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
”Eh? Surfing?” Inoo menoleh cepat.
”Iya! Aku sudah melist hal-hal apa saja yang akan kita lakukan disini” Seru Hikaru bersemangat
”Sasuga Hikaru! Berbeda sekali denganku yang Unplanned type ini”
Ya, Yabu memang bukan tipe orang yang perencana. Jika dia ingin pergi ke suatu tempat. Maka saat itu juga dia akan pergi. Mau ngapain aja disana? Itu akan dia pikirkan setelah sampai di tempat tujuan. Berlawanan sekali dengan Hikaru. Dia tidak akan tenang jika segala sesuatunya belum direncanakan terlebih dahulu.
”Iya.iya.iya. Aku tidak ikut” Inoo mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya dan segera merebut Handycam dari tangan Hikaru.
”Biar aku mengambil gambar kalian saja. Sayangkan kalau sudah sampai sini tidak ada yang mengabadikan moment” Inoo tertawa seadanya
”Yasudah! Asal jangan kau rusakan Handycam-ku saja! Seperti kemarin kau rusakan mainan action figure ku!” Hikaru sedikit cemberut mengingat kejadian kemarin. Inoo datang membawa sesuatu di tangannya yang di tutupi dengan tisu. Saat dibuka, mainan Hikaru sudah rusak menjadi beberapa bagian.
Inoo chan memang troublemaker yang harus di waspadai!
”Ja, kalau begitu kita berdua cari makan saja. Ayo kaoru...” Rei yang notabene hobi makan makanan manis ini tentu saja akan lebih memilih untuk wisata kuliner. Sedangkan Kaoru tipe easy going, dia akan nurut saja selama hal tersebut belum berlawanan dengan prinsipnya.
Sementara Hikaru, Yabu dan Inoo asik bermain. Rei dan Kaoru makan siang di rumah makan pinggir pantai di dekat sana. Rumah makan sederhana dengan nuansa tropis, mirip seperti di Hawai.
***
”Hhhhhh.... aku lapar” Inoo muncul tiba-tiba dan langsung menyambar minuman yang sedang di pegang Kaoru. Sedangkan Kaoru hanya menoleh dengan muka pasrah, minumannya sudah diminum hampir setengahnya.
”Eh? Sudah selesai?” Rei menelan makanannya dan menatap Inoo heran. Baru juga setengah jam berlalu.
”Titip ini. Aku mau pesan makanan dulu” Inoo menyerahkan Handycam-nya dan segera pergi melihat ada apa saja menu yang di sediakan di restoran ini.
”Saa... kita lihat hasil rekaman Inoo chan. Aku yakin pasti dia merekam hal-hal random gak jelas” Rei dan Kaoru sama-sama tertawa mengingat Inoo chan itu seseorang yang random.
Rei memencet options yang ada di tampilan layar untuk melihat hasil rekaman dan foto-foto yang sudah di ambil. Cukup banyak juga foto-foto yang sudah diambil.
”Eh?”
”Hem~ Dou shite?” Kaoru menyaut pelan sambil tetap menikmati makanannya.
BRAK!!
Rei menggebrak meja dan nyaris membuat Kaoru tersedak kaget. Membuat hampir semua pengunjung yang ada di sana menengok ke arah mereka berdua.
”Rei!” Raut muka penuh tanda tanya terlihat sempurna dari wajah Kaoru yang terpoles make up tipis itu.
Rei menopang dagunya dengan sebelah tangan, menghentak-hentakan kakinya dan memukul-mukul meja sebagai tanda kekesalannya. Memasang tampang sebalnya.
”Inoo chan! Apa maksudnya ini??!!!” Inoo chan yang baru saja sampai setelah memesan makanan kini jadi sasaran pertanyaan dari Rei
”Hem?” Inoo hanya bisa menunjukan tampang Aho-nya.
Penasaran ada apa, Kaoru dan Inoo melihat Handycam yang diberikan Rei dengan agak kasar.
”AH! Shimatta..” Jawab Inoo pelan
”Inoo chan. Duduk!” Perintah Kaoru dengan senyum penuh kemarahan di dalamnya.
”Ha..i~”
”Yo!” Yabu muncul dengan cengiran di wajahnya. Belum sadar akan situasi yang akan di hadapinya setelah ini.
Kaoru bertolak pinggang di depan Yabu dan melihat ke belakangnya. Tidak jauh dari Yabu ada 1 eksistensi lagi. Orang yang memang sedari tadi, paling ditunggu-tunggu.
”Apa maksudnya ini Hikaru?!!” Rei menunjuk Handycam yang tergeletak di atas meja.
Hikaru dan Yabu yang sama-sama tidak tau sebenarnya ada apa, melihat video yang sedari tadi jadi bahan permasalahan.
Video saat mereka—Hikaru dan Yabu—surfing. Tapi yang jadi permasalahan adalah Hikaru. Entah itu tidak sengaja terekam atau tidak, yang jelas di video itu Hikaru berciuman dengan gadis lain! Setelahnya hanya pasir pantai dan kaki dari orang yang merekamnya—Inoo Kei—yang terlihat di video tersebut.
”Dasar pria mesum!”
”Bukan!” Hikaru membela diri
”Kalau begitu ini apa?!!” Rei mengangkat barang bukti. Yang jelas-jelas di video itu Hikaru! Bukan Yabu ataupun orang lain.
Kalau bisa dibilang, sebenarnya Hikaru sendiri pun tidak begitu yakin dengan video itu. Video itu memang tidak terlalu jelas karena tidak di zoom.
”Kau kan selalu baik kepada setiap orang! Tidak perna memikirkan perasaanku! Mungkin kalau ada yang seseorang yang sudah sekarat dan minta cium, kau akn memberikannya secara cuma-cuma!”
”HAH?!!!!” Hikaru makin naik pitam. Dia sungguh-sungguh tidak mengerti dengn jalan pikiran kekasihnya itu.
”Aku—”
”DIAM INOO CHAN!!” Hikaru dan Rei sama-sama membuat Inoo kembali duduk di kursinya. Niat untuk menjelaskan apa yang dilihat versi seorang Inoo kini di urungkannya.
”Kita saja belum pernah berciuman. Kau malah berciuman dengan gadis lain! Kau pikir aku ini apa?!!”
Sontak perkataan Rei membuat ke 3 temannya syok terutama Kaoru yang sedikit memerah dibuatnya. Mereka pacaran tapi belum pernah berciuman??!!
Hal-hal yang seharusnya cukup Rei dan Hikaru saja yang tau, kini menjadi rahasia umum di antara mereka.
”Bisa tidak? Kau tidak membesar-besarkan keadaan?!” nada Hikaru mulai meninggi.
”Setiap kali kau menyingkapi permasalahan. Selalu. Selalu saja! Bersikaplah lebih dewasa lagi! Jangan terlalu kekanak-kanakan!”
”Hal kecil seperti itu saja di ributkan!” Hikaru melipat kedua tangan di depan dadanya. Membuang pandangan ke luar. Tidak menatap gadis yang dia kencani sejak 1 bulan yang lalu.
”Hal kecil katamu??!”
”Teganya kau!” Amarah yang tadinya memuncak kini berubah menjadi bulir-bulir air mata yang siap keluar. Rei mengambil tasnya dan berlari keluar.
”Reeeiiiiii!!!” Kaoru segera menyusulnya tanpa pikir panjang.
Meskipun suasana di sekeliling mereka begitu ramai dengan pengunjung. Tapi tidak dengan ke 3 pria yang kini hanya berdiri diam di posisi masing-masing.
”Hikaru... ku rasa kau sedikit... kelewatan” Yabu angkat suara.
Seharusnya hal seperti ini tidak perlu sampai terjadi jika saja mereka tidak emosi. Tapi memang sifat dasar manusia. Dia akan buta jika emosi sudah menguasai dirinya. Hal-hal yang kecil saja bisa berubah menjadi hal-hal besar, yang makin memperburuk keadaan.
***
Rei berakhir menangis semalaman di dalam kamar. Tidak mau makan atau pun ke luar kamar, bahkan hanya sekedar untuk ke toilet dan semacamnya pun tidak. Hatinya sakit. Perih sekali...
Dia tidak mau berhadapan dengan Hikaru untuk saat ini. Sulit di percaya, kekasihnya sendiri berkata seperti itu terhadapnya. Bahkan menghianatinya. Selama mengenalnya, ini pertama kalinya Hikaru bersikap seperti itu padanya. Selama ini Rei belum pernah mendengar Hikaru berkata setajam itu. Padahal, dia hanya ingin merasakaan masa-masa pacaran layaknya remaja yang lain. Bukan seperti ini...
Mereka pacaran saja baru!
Rei memejamkan mata, menghamburkan hayalannya dan membiarkan pipinya terbasahi oleh air mata.
Sementara itu di ruang tamu
”Yabai yo sore..” Inoo merebahkan tubuhnya ke sofa
”Saat itu aku merekam Yabu yang sedang surfing dan lingkungan sekitar (baca: gadis-gadis berbikini yang kebetulan lewat). Tiba-tiba Hikaru tidak sengaja tertangkap kameraku dari kejauhan. Karena kaget dengan apa yang aku lihat di kamera, ku turunkan kameraku dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri” Itu menjelaskan alasan kenapa sisa video itu berakhir hanya terlihat pasir dan kaki Inoo saja.
”Aku benar-benar lupa tentang video itu! Tadinya mau aku tunjukkan padamu, Yabu. Karena perutku lapar, aku malah memesan makanan dan menitipkan Handycam itu pada Rei... Seharusnya ku hapus saja video itu” Inoo frustasi.
Dia merasa bersalah antara penyebab ributnya Hikaru dengan Rei, dan jebolnya pertahanan Inoo dalam melindungi sahabat baiknya sendiri. Kalaupun kejadian itu tidak benar, apa yang dia rekam itu sudah pasti bisa menyebabkan salah paham. Tapi sampai detik ini pun Hikaru belum menjelaskan apa-apa pada teman-temannya itu..
”Sasuga Inoo chan... Ckckck, kau memang troublemaker” Yabu memasang tampang ini-salahmu-benar-benar-salah-mu-ayo-tanggung-jawab-lah-Inoo-Keeeeiiii—
PAAKKK!!
”Itteee!!” telapak tangan Kaoru sukses melayang di kepala Yabu.
”Aku tidak percaya dengan apa yang kau lihat!... Mengingat matamu yang minus itu~..” Kaoru bergumam sendiri, tidak ingin percaya akan hal tersebut.
”Kau sendiri, tidak lihat?” Yabu menoleh pada Kaoru dan mengibaskan tangannya tanda tidak tau. Entah benar-benar tidak tau atau memang dalam posisi mengcover Hikaru.
”Hhhh... kenapa liburan kita jadi begini! Lagi pula kemana Hikaru? Tidak kelihatan dari tadi”
”Shiranai” Jawab Yabu pelan.
***
Sinar pagi memasuki celah tirai yang sudah terbuka sedikit, menembus ke selaput mata membuat Rei terbangun. Ia mengerjap dan kembali meringkuh dalam selimutnya, harapan bahwa kemarin itu hanya mimpi kini sirna. Rei terbangun dan kembali ke realita kalau baru saja dia dan Hikaru bertengkar hebat.
Hhhh...
Rei tersadar, kamarnya sepi. Kemana Kaoru? Apa dia sudah bangun?
Dia keluar dari dalam selimutnya dan memutuskan untuk keluar kamar.
Ckreekk
”Ah, kau sudah bangun Rei?” Kaoru menyapanya dengan senyuman lembut di wajahnya sambil membawa selimut yang sudah di lipat rapi di tangannya.
Kaoru kembali tersenyum melihat raut wajah Rei yang tampak kebingungan menatap sofa. Terdapat 1 selimut yang masih berantakan dan 2 bantal di atas sofa.
”Karena takut mengganggumu, semalam aku tidur di kamar sebelah. Jadi Kou dan Inoo tidur di sofa”
”Gomen” Rei tau dirinya sudah banyak merepotkan teman-temannya.
”Dan Hikaru... tampaknya tidak pulang semalam...”
Rei hanya bisa mengangguk pelan. Meskipun ada rasa bersalah, tapi tetap saja rasa kesal masih menyelimuti sebagian dari hatinya jika dia mengingat Hikaru.
”Kaoru, kenapa jam segini kau masih disini? Bukannya hari ini kau mau jalan-jalan dengan Yabu?”
”Eem~m” Kaoru menggelang ”Hari ini aku akan menemanimu seharian! Ayo kita jalan-jalan saja berdua! Lagi pula Kou dan Inoo chan pergi entah kemana..” Kaoru merangkul lengan sahabatnya itu dengan semangat.
Rei duduk di teras depan penginapan, menunggu Kaoru yang sedang siap-siap. Sebal! Hanya 1 kata itu saja yang sedari tadi di gumamkan oleh Rei. Mau bagaimana lagi, emosinya sudah memuncak. Berlibur di pinggir pantai bersama teman-teman yang se-ha-rus-nya menyenangkan berbalik arah menjadi menyebalkan. Sudah 2 hari ini Rei bermuka masam. Kekasih yang baru di pacarinya selama 1 bulan penyebab semua ini.
Jika saja. Ya, jika saja kejadian itu tidak pernah ada dan semuanya bisa bersenang-senang sesuai dengan rencana.
Hembusan nafas berat keluar dari hidungnya. Rei kembali menatap lurus ke arah laut lepas di depannya.
”Baka!”
”Jangan bermuka masam seperti ituuuu~” Kaoru muncul tiba-tiba di depan Rei dan mencubit kedua pipi sahabatnya itu.
”Kaoruuuuuuu!!!!! Reeeiiiiii!!!!” Terdengar teriakan Yabu dan Inoo dari kejauhan memanggil.
”Ayo ikut!” Yabu berlari menghampiri kedua gadis itu.
”Kemana?”
”Sudaaahhh ayoo ikut saja!” Inoo menarik tangan Rei untuk berdiri.
Rei's POV
Kami di ajak menyusuri dermaga kayu. Menjauh dari pantai. Aku masih belum mengerti mau di bawa kemana... tapi, ya sudah lah aku ikut saja.
Sesampainya di dermaga
”Jyaaaanggggg!!!!!” Inoo berdiri di depan perahu bermotor dengan kapasitas 10 orang, yang sudah di sewa untuk mengajak kami wisata keliling.
”Selamat datang, silakan pakai baju pelampung ini sebagai prosedur keselamatan” Petugas atau lebih tepatnya bapak kepala yang bertugas mengantar mereka berkeliling memberikan masing-masing 1 untuk tiap orang.
Awalnya aku ragu untuk ikut, tapi setidaknya aku tidak ingin mengecewakan teman-temanku. Maa... ii ya! Ku pakai baju pelampung itu dan segera naik ke dalam perahu. Karena perahu bergoyang-goyang terkena ombak, jadi aku harus hati-hati saat melangkah.
Langkahku terhenti. Di ujung sana... ada Hikaru. Sudah duduk memunggungiku, lengkap dengan baju pelampungnya.
”Aku... tidak usah ikut saja!” Ku tarik baju Kaoru dan berbisik padanya pelan. Sebenarnya aku masih tidak mau bertemu Hikaru untuk saat ini. Tapi Kaoru memaksaku untuk naik.
Mesin sudah dinyalakan. Perahu melaju melawan ombak. Aku duduk berjauhan dengan Hikaru.
Kaoru, Yabu dan Inoo, semua menikmati nya. Ku rasa mereka menyewa perahu ini agar kami bisa berbaikan dan kembali seperti dulu. Tapi...
Lihat! Jangankan berbicara kepadaku! Menatapku saja tidak! Dia itu pria bukan sih!
Bahkan... aku di anggapnya tidak ada...
Tidak ada satu pun kata maaf.. Padahal dia kan yang salah!
Niatan menghibur diri malah balik makin membuat kesal. Pikiranku yang tidak menentu dan perahu yang berguncang-guncang diterpa ombak makin membuatku mual.
”Aku mau turun! Bisa tidak kita kembali ke dermaga!” Karena suara mesin yang berisik itu membuatku harus sedikit berteriak agar suaraku bisa terdengar. Pertama, aku tidak tahan dengan sikap Hikaru yang dingin seperti itu. Kedua, aku tidak suka berlama-lama di atas perahu ini! Ku rasa aku mulai mabuk laut.
”Eh? Tapi kan sekarang kita sudah jauh dari pantai” Meskipun perjalanan mereka baru saja dimulai, tapi melihat aku yang mulai gelisah dan hampir menangis ini mulai bernegosiasi untuk segera kembali ke dermaga.
Jangan! Jangan menangis di sini Rei! Ku tahan air mataku sebisa mungkin agar tidak keluar. Aku hanya bisa menutupinya, memandang ke arah laut agar tidak ada yang melihat. Ku yakinkan diriku sendiri untuk tidak menangis apa lagi di depan Hikaru. Dadaku sesak dengan sikapnya yang seperti itu.
”Lagi-lagi kau bersikap kekanak-kanakan!” Suara Hikaru yang cukup keras sanggup membuatku menengok ke arahnya.
”Kalau tidak mau ikut! Bilang sejak tadi! Jadi tidak perlu merepotkan yang lain!” Bentak Hikaru
Sudah cukup!! Aku tidak tahan dengannya!!
Ku lepas pengait baju pelampungku dengan kasar. Aku berdiri dan membuangnya ke bawah. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir. Aku tidak peduli dengan Kaoru yang berusaha menghentikanku. Aku hanya ingin segera keluar dari sini.
”Sebentar nona, perahunya belum di ikatkan ke dermaga!”
Tapi aku tidak peduli, aku langsung melangkah begitu perahu merapat ke pinggir dermaga.
BYUUURRRR!!!!
Tapi karena semua yang di dalam perahu bergerak secara tiba-tiba, di tambah gelombang ombak yang cukup kuat makin membuat perahu makin berguncang-guncang dan membuatku terpleset hingga terjatuh ke dalam laut.
”REEEEIIIIIIIIIIIIIII!!!!”
Aku hanya bisa mendengar entah siapa memanggil namaku. Terdengar samar. Setelah itu aku hanya fokus pada diriku sendiri. Panik makin membuat otakku tidak dapat berfikir dengan benar. Air yang masuk ke dalam tenggorokannku mulai mengikat jalur masuk udara ke dalam paru-paru. Aku mencoba meraba disekitarku, tapi tidak ada satupun yang dapatku jadikan pegangan. Kosong...
Aku terperosok makin ke dalam...
Hanya terlihat gelembung-gelembung udara bergemuruh keluar dari mulut dan hidungku.
Sisanya...
Aku tidak tau lagi...
Perlahan ku buka mataku. Kamar? Ini kamarku. Aku ada di penginapan...
”Kau sudah bangun?”
”Kaoru..” Aku bangun dan memeluknya. Sahabatku yang tampaknya sudah menungguiku sejak tadi hingga aku tersadar.
”Aku pikir aku sudah mati” Air mataku kembali keluar.
”Sudah tidak apa-apa sekarang” Kaoru mengelus punggungku dengan lembut dan membantuku untuk merebahkan diri pada bantal yang sudah disusun di belakangku agar aku bisa bersandar dengan nyaman.
”Tadinya aku pikir kau bercanda, tapi setelah beberapa saat kau tidak muncul-muncul juga ke permukaan, saat itu juga Inoo chan sadar kalau kau tidak bisa berenang. Kami tidak ada yang tau kalau kau tidak bisa berenang. Gomen... kalau saja kami tau, pasti kami segera menyelamatkanmu”
Dari dulu aku memang tidak bisa berenang, jadi aku memang paling takut jika sampai tenggelam. Sendirian di dalam sana, tidak bisa bernafas, gelap. Aku paling takut itu.
Tok!tok!tok!
”Boleh kami masuk?” Yabu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
”Masuklah”
Yabu masuk dan kemudian disusul oleh Inoo. Tapi kemudian Inoo menutup pintunya.
Cklek
Pintu tertutup, berarti tidak ada eksistensi tambahan yang masuk lagi.
Dia...
Tidak ada...
Entah kenapa, ada rasa kecewa dari dalam hatiku.
”Kau sudah baikkan?” Inoo berjalan ke sebelah kanan dan duduk di pinggir tempat tidurku.
”Um”
”Untung saja Hikaru segera masuk ke air dan menyelamatkanmu Rei!” Yabu merebahkan badannya ke kursi di dekatnya.
Hikaru?
”Iya! Setelah berhasil mengangkatmu ke atas dermaga. Hikaru langsung cemas begitu tau kau tidak bernafas Rei...” Kaoru menambahkan
”Lalu Hikaru segera memberi pertolongan pertama dan nafas buatan hingga akhirnya kau bisa bernafas lagi” tutur Inoo santai
EHH?? Nafas buatan??!!!
”Hikaru langsung menggendongmu kembali ke penginapan dan segera memanggil dokter setempat. Selama kau pingsan, dia tidak bisa diam dan terus mondar-mandir di depan kamar”
Hikaru...
”Sekarang dimana dia?”
”Di luar”
”Hei! Aku dengar malam ini ada acara Hanabi. Akan banyak stand-stand makanan juga katanya” Inoo mengeluarkan selembaran yang dia dapatkan dari salah satu toko yang ada di pinggir pantai.
”Ayo kita ke sana!” seruku
”Demo..” Kaoru masih tampak khawatir dengan kondisiku yang baru sadar ini.
”Mou daijoubu desu”
Aku tidak ingin mau lagi merusak liburan ini. Masalahku dan Hikaru, biar kami saja yang menyelesaikannya berdua. Kurasa aku memang harus mengajaknya bicara. Agar semuanya selesai!
***
Kami berjalan melewati stand-stand di sepanjang jalan. Gemuruh suara orang-orang yang berbicara sambil lalu lalang. Ramai. Sangat ramai malah. Di sini benar-benar banyak stand makanan dan permainan. Banyak lampu menghiasi jalanan. Festival musim panas di dekat pantai. Rasanya benar-benar berbeda.
Aku akan berbicara dengan Hikaru jika waktunya sudah tepat. Tidak mungkin aku bicara dengannya sekarang. Di tempat seramai ini.
Gep!
Aku terkejut! Ada seseorang yang memegang tanganku!! dan segera menarikku dari kerumunan orang-orang.
Hikaru??!
Dia membawaku ke tempat yang lebih sepi. Di pinggir pantai. Di sini hanya ada kita berdua.
Dia menatapku lurus ke dalam bola mataku. Tidak ada 1 kata pun yang terdengar, hanya ada suara deburan ombak menyapu pantai dengan lembut.
Dep
Hikaru memelukku erat dengan seketika.
”Lepas!” Aku meronta dan melepaskan diri dari pelukan Hikaru
”Jangan bersikap seperti itu padaku! kau pikir aku layangan yang bisa di tarik ulur begitu saja!” Emosiku langsung keluar. Antara kesal dan senang, aku mulai tampak akan menangis lagi.
”Kau masih marah padaku?”
”Setelah kau mencium gadis itu! Kau membentakku!...” Aku mulai tampak tidak tenang. Memandang ke segala arah dan air mataku mulai mengalir.
”Bahkan kau tidak memberi penjelasan apa-apa!” Aku menunduk dan kembali menatapnya.
”Kemudian menyelamatkankku!... Setelah itu menghilang entah kemana dan tiba-tiba...” Aku mulai kesulitan bernafas. Aku mulai sesenggukan tidak karuan.
”Kau.. kau menarikku dan memelukku begitu saja!” Aku lemas dan terjatuh ke pasir.
”Gomen” Hikaru memegangi kedua pundakku
”Karena saat itu aku terbawa emosi jadi malah membentakmu dan tidak menjelaskan apa-apa”
”Sebenarnya aku ini tidak menciumnya! Kau salah paham!”
”Saat itu aku tidak sengaja menabrak gadis itu dengan papan seluncurku hingga kami sama-sama terjatuh. Jadi aku membantunya berdiri. Dari sudut pandangan kamera yang di ambil Inoo tersebut memang terlihat seperti kami...”
”Berciuman...” Hikaru tampak agak salah tingkah saat bilang kata 'berciuman'
”Lagi pula! Tidak mungkin aku mencium gadis sembarangan! Apa lagi tidak aku kenal”
”Bukannya aku tidak mau bicara padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa... Ini kan pertama kalinya kita bertengkar seperti ini... Aku...”
”Aku hanya ingin menjelaskannya semuanya jika kau sudah tenang”
”Tapi sampai hari ini pun kau masih seperti itu. Ditambah lagi aku merusak segalanya dengan berkata yang tidak seharunya dan membentakmu lagi” Aku mulai berhenti menangis dan memberanikan diri untuk menatapnya.
”Saat kau tenggelam. Aku benar-benar panik tau! Ku pikir aku akan kehilangan dirimu” Hikaru kembali memelukku erat. Seakan-akan takut aku akan hilang dari pandangannya.
”Chottooo!” Aku mendorong tubuh Hikaru hingga ia jatuh terduduk di pasir dengan raut tanda tanyanya.
”Kau masih marah? Kan aku sudah menjelaskan semuanya padamu..”
”Iiiiihhhhhh!!!!! Sebal! Sebal!” Ku pukul-pukul Hikaru dengan kedua tanganku
”Kau mau apa lagi biar aku bisa di maafkan? Jangan membuat perkataanku tadi sia-sia. Berkata seperti itu sudah membuatku malu setengah mati tau!” Muka Hikaru tampak merah di terpa cahaya bulan.
”Bukan itu! Kalau itu juga aku sudah tau! Kaoru, Yabu dan Inoo suda menjelaskannya padaku!” Ku gembungkan kedua pipiku tanda sebal dengan mahluk adam yang ada di depanku ini.
”Eh? Lalu apa...”
”Kenapaaaaa kau menciumku secara sepihaaakkkk” Aku mulai menangis layaknya anak kecil yang direbut mainannya
”Itu First Kiss ku! First Kiss tau!” Ku lipat wajahku. Biar saja dia bilang aku ini jelek jika bersikap seperti itu. Aku! Tidak! Pe-du-liii!!!
”Maksudmu saat aku beri nafas buatan itu? Bukan karena masalah video dan sikapku terhadapmu?” Alis Hikaru bertaut selaras dengan tampang tidak percayanya.
”Kau menciumku secara diam-diam saat aku tidak sadar!” Aku menunjuk ke arah wajahnya itu
”Itu namanya curang tau! Cu—”
CUP
Hikaru menciumku
Mataku melebar secara otomatis. Jantungku kini ikut meledak seiring dengan terdengarnya suara letusan kembang api di langit.
DUAR! DUAR! DUAR!
Kami sama-sama tidak memperdulikan kembang api yang bertebaran di langit. Indahnya hanabi malam ini, jauh kalah indahnya dengan apa yang kurasakan saat ini.
”Dasar gadis bodoh...” Hikaru tersenyum lebar dan memelukku hangat
”Aaahh~ Aku memang lemah jika harus berhadapan dengan gadis yang bersikap kekanak-kanakan dan manis terhadapku”
Aku tersenyum lega memiliki kekasih seperti Hikaru.
-Fin-
Aaaahhhhhhhhhhhhh TBC ini mah! Aneh bener penpiknya =='
maap ya, kebanyakan intro geje, chara utamanya malah di dalemin pas di akhir-akhir m(_ _)m
tadinya tuh gw m munculin daiki ama bakaki. Biar dpt peran biarpun geje xDDD
tapi kelupaan, jadi g masuk xDD
Label: fanfic, hikaru yaotome