みんなさん、こにちわ!(ˆ˘ ˆ) Ruu desu x3 Tada Futsu no onna..
(view full profile)
ともだち Link Fiction Follow My Blog



[FANFIC] Time Limit


Title: Time Limit (PG 15)
Author: Ruri aka Ruucchi
Staring: Kouta Yabu, Koharu Yagisa (OC)
Gendre: Romance
Disclaimer: Yabu anak jonis, tuh OC punya saya
Music: Ya Ya Yah - SummerxSummerxSummer

A/N terinspirasi sejak nonton Arashi Childminder dullluuuuuu xDDD
Yosh! Akhirnya nih fic kelar juga, setelah sekian lamaaaaaa LOL
Entah kenapa gw sukaa sekali dengan karakter yabu yang begini XP
Saa.. douzo

Kenapa sih dia selalu mengganggu hidupku! Sering mengikutiku selama di sekolah. Jam istirahat dia selalu muncul di kelasku, mengobrol dengan temannya yang kebetulan sekelas dengan ku dan sesekali melirikku. Waktu itu pernah sekali, tidak sengaja aku memergoki dia sedang melihat ke arahku dan kemudian dia menggodaku dari jauh. Teman-temanku mulai ikut menyoraki kami! Sedangkan dia hanya senyum-senyum saja! Menyebalkan!!
Kelakuannya ini sudah menjadi rahasia umum satu sakolah. Hhhh...
Setiap pulang sekolah pun dia selalu menunjukkan senyum isengnya dan menawarkan diri untuk mengantarku sampai ke rumah. Saat di jalan..tiap kali aku berhenti, dia juga berhenti. Aku kembali berjalan, dia juga lanjut mengikutiku. Bahkan mengikutiku terus sampai aku benar-benar masuk ke rumah.
Astaga!! Dia itu stalker yah!!
Aku sudah cukup menderita dengan nilai ujianku yang kini merosot drastis! Sedangkan dia? Dia itu pintar! Tidak perlu belajar juga rasanya bisa lulus!
Otak pintar tapi kelakuan minus!
Terkadang aku suka lupa, kalau rumahnya itu ternyata dekat sekali dengan rumahku.
...
Tepat di sebelah.
*ZIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNGGGG~ XDD*

Teng. Teng. Teng. Teng
Jam sekolah telah usai. Tapi, jam-jam menyebalkanku tentu saja belum berakhir.
Ah! Itu dia!
Yabu Kouta, kelas 3 B. Kelas sebelah. Berperawakan tinggi tapi kurus. Cwo yang tidak begitu terkenal di kelasnya, tapi sangat tenar di satu sekolahan.
Yabu Kouta, dia muncul di pintu kelas dengan menyangkil tas hitam di pundak kirinya. Seperti biasa, senyum khasnya tidak pernah lepas dari wajahnya itu.
Hey! Hey! Hey!  Kalau kau senyum-senyum terus seperti itu,  kau tidak akan bisa melihat kedepan tau!
Lihat saja, tiap kali dia tersenyum lebar, matanya pasti tidak terlihat..
Hhh... Ku putar bola mataku dan segera ku masukan buku-bukuku ke dalam tas seadanya.
”Haaa~ruu~ Chan~” Dia segera mengambil posisi duduk di kursi depanku, menghadap ke arahku.
Ku buang tatapanku ke luar jendela. Malas melihat tampangnya yang senyam-senyum seperti itu.
Kreekkk
Suara decitan kursi yang bergeser karna aku bangun dari dudukku.
”Aku bisa pulang sendiri” Statementku tegas. Meliriknya sebentar dan segera beranjak dari tempatku berdiri.
Ku percepat langkahku sampai ke rumah, tidak peduli dengan eksistensi tepat 2 meter di belakangku.

Yang aku percaya cuma satu. Setiap orang pasti akan ada batasannya. Dan aku yakin, nantinya Yabu akan cape sendiri dan berhenti menggodaku.

***
Ku raih sebotol air mineral dari dalam kulkas. Air dingin mungkin akan sedikit menyejukan pikiranku dari Yabu. Aku senang hari ini libur. Tidak ada sekolah, aku seharian di rumah dan yang pastinya, tidak ada Yabu yang berkeliaran di hadapanku.
Aku berjalan menuju tangga, ke atas—ke kamarku— melewati ruang tamu.
Sepertinya Kaasan ada tamu
Ku tenggak sedikit minumanku sambil sedikit melirik ke arah ruang tamu. Siapa sih?
OHOK!!
Tenggorokanku tersedak total! Yabu??! Mau apa lagi dia di rumahku?!!!
Yabu membalikkan badan dan tersenyum girang.
”Mau apa kau?!” Langsung, tidak pakai basa-basi
”Huwaaa!!! Kawaii!”. Kata Yabu sembari memperhatikan baju yang aku kenakan.  Ku perhatikan diri ku sendiri. Kaos tanpa lengan warna biru laut dengan rok Jeans di atas lutut.
”Sexy” Yabu menjentikan jarinya dan menunjuk ke arahku. Jelas sekali tampak senyuman penuh arti di wajahnya.
Ingin sekali ku lempar botol yang kini aku pegang ke arah muka hentai-nya itu! Mumpung masih terisi agak penuh, karena baru sedikit yang ku minum. Terkena botol yang isinya masih banyak, pasti akan lebih terasa sakit dari pada botol yang kosong. Kecuali jika dia berhasil menangkapnya saat ku lempar. Itu lain lagi ceritanya...
Yabu berjalan mendekat. Mengarah ke telingaku. Wajahnya tepat di sebelahku sekarang. Dekat. Membuatku refleks mundur sedikit.
”Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi dariku”
Aku mengernyit, masih belum mengerti. Ini rumahku. Ada Kaasan. Apa yang perlu di takutkan.
”Haru”. Kaasan memanggil, menuruni tangga dengan pakaian rapi. Sangat rapi.
Yabu segera melangkah mundur beberapa langkah dan tersenyum.
Tsk! Dasar pria bermuka dua!
”Aa.. gomen ne, Matsushima san menitipkan bayinya pada Kaasan, mereka akan pergi ke Osaka hari ini dan tidak bisa membawa Nana chan. Sedangkan Kaasan mendadak tadi ada telp dari kantor, Kaasan harus ke sana sekarang.. Bisakah kau menjaga Nana chan sampai mereka kembali?? Mungkin  mereka akan pulang  malam. Oiya, Kaasan agak cemas kalau kau sendirian di rumah, berhubung akhir-akhir ini banyak sekali kasus pria hidung belang. Jadi Kaasan meminta tolong Yabu kun untuk ikut menemani dan menjaga Nana chan” Tutur Kaasan panjang
Sebentar.. Otakku sedang kusut. Biar aku cerna perkataan Kaasan pelan-pelan.
Pertama, Kaasan harus ke kantor. Kedua, aku sendirian di rumah. Ketiga, Yabu di rumah ini. Keempat, menjaga Nana chan sampai Orang tua nya pulang. ITU ARTINYA AKU MENJAGA BAYI BERSAMA YABU????!!!!
Yabai!
Dan. Eh? Cho.Chotto..
Pria hidung belang?!!
KAASAAANNN!!! KAU MEMBAWA PRIA HIDUNG BELANG ITU KE DALAAAMMM RUMAAAAAAAAAAHHH!!!
”Tidak perlu khawatir Yagisa san, ada aku” Yabu angkat bicara sementara aku masih diam entah harus berkata apa.
Ku miringkan kepalaku sedikit. Ku lirik orang di sebelahku yang kini tersenyum puas dengan sedikit mengangkat tangan membentuk huruf V.
VICTORY untuknya
***
Kaasan sudah berangkat, dan Nana chan kini sudah ada di gendonganku. Balita berumur 8 bulan ini tidak akan begitu menyulitkanku rasanya. Yang jadi masalah itu pria yang berada di sampingku. Mari kita lihat apa yang sedang dia lakukan.
Yabu menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja makan. Senyam-senyum memandangiku yang sedang memangku Nana chan.
”Ne.. Nana chan kita pindah yuk, disini ada om.om mesum”.
”Ehh? Aku?” Yabu menunjuk dirinya sendiri. Berdiri memandang cermin di dekatnya.
”Masa?”
Ku gendong Nana chan dan ku bawa ke atas. Ruang keluarga kami berada di pertengahan lantai 1 dan lantai 2, tanpa ada sekat atau semacamnya. Unik bukan? Lantai 1 rumah kami memang di desain seperti itu.
Ku letakan Nana chan di depan TV, di atas karpet berbulu lembut yang akan membuatnya merasa nyaman.
”Mmm.m.m.Aaaaaaaaaa”
”Aaaa.a.a.a.a... dia menangis~”. Sahut Yabu dari belakangku dengan santainya. Sedangkan aku malah panik sendiri. Aku belum berpengalaman dalam mengasuh bayi!
”Eh? Eh? Doushita no???” Tangisan Nana chan makin keras, aku makin panik.
Ku ambil mainan, apapun itu yang bisa membuat Nana chan berhenti menangis.
Tapi tetap saja hasilnya… NIHIL
Yabu mengangkat Nana chan dan menggendongnya. Menepuk-nepuk pantatnya, sedikit mengayun-ngayunkannya, untuk membuatnya tenang.
Uso!!! Aku terdongak takjub, karna beberapa saat kemudian Nana chan mulai berhenti menangis.
Aku berdiri menghampiri Yabu dan mengelus-elus punggung Nana chan yang kini anteng di pelukan Yabu.
Hhhh...aku lega dia tidak menangis lagi.
”Aku rasa dia lapar. Lihat..” Yabu menunjuk jam di dinding. Sudah pukul 12.30 siang.
”Eum~” Aku menengok ke bawah, ke arah dapur. Memandangnya sejenak.
”Aku rasa kita harus belanja, aku tidak punya makanan bayi”
***
Aku menenteng keranjang belanjaan sementara Yabu yang menggendong Nana chan.
Hhhh.. aku rasa Nana chan tidak suka aku. Lihat! Tiap kali dia di gendong Yabu pasti diam. Tsk! Bahkan seorang balita saja bisa takluk pada Yabu.
Ku cubit pipi Nana chan sedikit. Gemas.
Hey! Masih kecil sudah tau pria ganteng ya~

Kami susuri rak-rak penuh makanan bayi di sebuah Konbini terdekat. Sementara Nana chan asik bermain dengan Yabu, aku ambil beberapa sereal dan biskuit bayi dengan cepat. Aku ingin cepat pulang. Aku tidak tahan mendengar orang-orang yang melihat kami—Aku, Yabu dan seorang bayi— bertanya padaku ”Keluarga muda ya?” ”Waahh bayinya lucu sekali” atau sekedar berbisik kepada temannya—sampai telingaku sanggup mendengarnya—berkata ”Lihat. Lihat”
Sudah aku katakan pada mereka kalau kami bukan pasangan suami istri! tapi mereka malah tertawa dan tidak percaya. Ini bertambah buruk saat Yabu menghampiriku, berkata kepada Nana chan, ”Aa! Ayo kita ke Mama” dengan santainya.
Dalam sekejap orang-orang di sekitarku langsung merespon ”Aaaaah~” dan sedikit mengangguk.
Dia itu bodoh atau baka sih!!!
Segera aku seret Yabu keluar dari Konbini. Segera! setelah selesai membayar semuanya.
Tampaknya langit tidak bersahabat kali ini. Hujan! Dan hanya ada 1 payung. 1 payung berdua??? Apa lagi ini?!
Aku menghela nafas dan aku menerima Nana chan dari gendongan Yabu. Membiarkan Yabu membawa belanjaan dan  payungnya.
”Jangan jauh-jauh dariku ya, aku tidak ingin kau dan  Nana chan kebasahan” Yabu menarikku pelan hingga dekat dengan tubuh kurusnya.
Ku dekap erat  Nana chan dalam gendonganku. Menutupinya sedikit dengan jaket yang ku kenakan agar ia tetap merasa hangat di hujan angin seperti ini.
Hangat. Ya.. berada sedekat ini dengan Yabu, cukup membuatku merasa sedikit hangat.
***
Aku mengunyah makananku sambil sesekali menyuapi Nana chan di sampingku. Sementara mahluk hidup yang satunya malah asik dengan makanannya. Sesekali bersuara ”Umai!”
Hanya itu.
”Gouchisousama” Yabu menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya.
EH?! HAYAI!!
Sekarang giliran Yabu menyuapi Nana chan sementara aku menyelesaikan makananku.
Ku habiskan makananku dan sesekali melirik ke samping. Melihat Yabu bermain dengan Nana chan. Membuat lelucon aneh dengan wajahnya sampai-sampai balita itu tertawa dibuatnya.
”Ah!” Yabu meliriku dan mengulurkan tangannya. Menyapu sisa makanan yang menempel di bibirku. Menatapku lekat dan kemudian tersenyum.
BLUSH!
Dalam sekejap mukaku merah padam.
Yabai! Seumur hidupku, aku belum pernah di dalam situasi seperti ini.
Ku tenggak ludahku dan segera mengumpulkan piring bekas makan dan membawanya ke wastafel. Ku nyalakan air kran, ku cuci piring seadanya dan ku letakkan di rak kecil di sebelahnya.
***
Aku mengganti chanel sembarang. Mau apa lagi? Tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain menonton TV. Nana chan sudah tertidur, ini sudah jam 8 malam.
Hempasan badan Yabu ke sofa membuatku menoleh cepat. Kenapa sih harus duduk di sebelahku!
Aku bergeser sedikit ke samping. Yabu pun malah ikut bergeser mendekat. Melihatku yang tampak kikuk, Yabu merapatkan tubuhnya dekat denganku. Mengunciku di antara lengannya dan sandaran sofa.
“Mau apa kau?!” Aku makin salah tingkah di depannya
“Skak mat!” Yabu tersenyum licik dan  mendekatkan bibirnya
Mataku melebar, wajahku langsung kembali merah padam. Refleks. Aku memalingkan muka dan menutup mata. Takut. Jantungku berdebar sangat kencang.
Tapi kemudian malah terdengar suara tawa kecil. Aku membuka mata perlahan dan melihat Yabu tertawa puas!
HEE?!
Ku dorong tubuhnya agar menjauh dariku. Ku lipat wajahku, kesal! Tega sekali dia!
Melihatku yang hampir menangis ini, dia malah tertawa geli tapi ditahan, karena tidak ingin membangunkan Nana chan yang sudah tertidur pulas.
Untung saja  Nana chan sudah tidur! Kasian sekali dia, harus melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat di umurnya yang masih kecil itu!
Aku bersandar di sofa, lemas. Mengusap-usap mata yang hampir basah.
”Dengar ya” Yabu menggenggam tanganku, menyingkirkan dari wajahku hingga aku bisa melihat jelas wajahnya.
”Aku ini laki-laki normal. Kalau aku mau, aku bisa saja melakukan hal yang LEBIH dari yang tadi. Apa lagi rumah ini sepi” Yabu mengusap hidungku dengan punggung jari telunjuknya.
Mata coklat beningnya tajam, lurus mengunci pandanganku.
”Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Karena aku tidak ingin melukai  gadis yang aku sukai”
Raut wajahnya jelas menunjukan kalau dia serius.
TING TONG
”Aa! Ping pong da!” Seru Yabu yang kembali seperti layaknya Yabu. Yabu dengan cengiran yang biasanya
Ku hembuskan hafasku yang sedari tadi ku tahan. Menghirup banyak-banyak udara di sekitarku. Mengerjap sejenak dan segera beranjak ke depan untuk membukakan pintu
”Sumimasen” Matsushima san tampak di pintu membukukan badan.
Matsushima san mengambil Nana chan kembali. Sebagai rasa terimakasihnya, dia membawakan oleh-oleh. Cake chocolate.
”YATTA!! Cake!” Yabu dengan cepat merebut kotak cake yang aku pegang.  Membawanya ke dapur dan langsung duduk manis dikursi.
Aku buka kemasannya dan ku potong jadi beberapa.
”Aku mau porsi yang besar!” Wajah Yabu berseri menunggu jatah kue nya
”Hai” ku sodorkan sepotong besar padanya.
”Arigatou” Yabu mengulurkan tangannya dan tersenyum.
”Tapi setelah ini kau silahkan pulang”
”UMAA!!” Seru Yabu
”Hey! Kau dengar tidak?”
”HUWWAAA UMAI! MECHA UMAI!!!”
Hhhh... Tampaknya dia tidak mendengarkan ucapanku sama sekali. Malah asik melahap kue nya.
Aku pegang dada kiriku sambil terus menatapnya. Jantungku. Jantungku masih berdegup tidak stabil. Kata-kata Yabu terus terngiang di pikiranku.
JDERRRR!!!
Suara petir membuatku terlonjak kaget hingga menabrak kursi.
”Hujan..” Suaraku lemas dan pelan
”Hmm... Itu berarti aku tidak bisa pulang” Jawab Yabu santai, dan kemudian melanjutkan makannya
”Kau kan bisa bawa payung! Lagipula rumahmu dekat”
Sudah cukup! keberadaan Yabu makin membuatku salah tingkah.
”Yada! Meninggalkanmu sendirian di rumah di cuaca seperti ini?? Tidak akan” Yabu bangun dan meletakan piringnya di wastafel.
Yabu mendorongku menuju sofa.
”Hemm... ada film bagus apa ya” Yabu menggonta-ganti chanel mencari acara bagus malam ini.
JDEEERRRRRR!!!!!!
”HUWAAAAAAAAAAAAA!!!!” Yabu dan aku sama-sama menjerit keras. Suara petir kali ini sangat keras, melebihi petir yang sebelumnya. Cuaca malam ini sangat buruk rupanya.
Sadar akan apa yang aku peluk. Mukaku memerah. Aku menjauhkan diri dari tubuh Yabu, tapi aku tidak bisa melepaskan genggamanku dari kemeja yang dikenakannya. Tanganku gemetar.
Yabu menarik tubuhku pelan-pelan dan memelukku. Menenangkanku yang sedikit ketakutan.
”Sudah cukup” Aku mengeliat dalam pelukkannya, tapi Yabu semakin erat memelukku.
Aku meronta, berharap Yabu melepaskannya. Tapi hal itu justru membuat Yabu makin mengencangkan pelukannya. Hingga membuat tubuh kami sama-sama terjatuh ke sofa. Berat badan Yabu membuatku sulit untuk bergerak.
”Yab―”
”Tidak! Berhentilah bersikap dingin”
”Lepask―”
”Aku menyukaimu!!”
Aku terdiam dalam pelukannnya.
”Aku... benar-benar menyukaimu”
Kono me ni utsuru nowa kimi dake sa
I need you, Want you
 Dan jantungku berdebar  kembali.
”Maaf kalau selama ini aku sering mengganggumu. Membuatmu kesal dengan tingkah laku ku”
Sawareru hodo chikaku ni iru yo
Nee boku ga mienai no?
Nee kizuite
”Tapi aku tidak bermaksud begitu”
Indigo buruu no somatta kimi wo omou kimochi
Sora to umi hitotsu ni tokete amaku awai koi no hajimari

”Aku boleh saja kalah dalam pertandingan bola. Dan aku bisa menerima kekalahan itu!”
”Tapi aku tidak mau menyerah untuk yang satu ini”
”Aku akan terus memperjuangkan cintaku”
”Yabu...” Ku tatap wajahnya intens.
Yabu mendekatkan bibirnya perlahan. Dan sempat berhenti sejenak. Menanti respon balasan dariku. Tidak ada penolakan, dia mencium bibirku dengan lembut.
Ya. Setiap orang pasti akan ada batasannya. Dan aku pun memilikinya. Batasan untuk terus menghindarinya. Karena sekarang aku menyukainya.
Senyum mengembang di wajahku yang kini memerah.
”Anooo Yabu san...”
”Hai, Yagisa san?”
”Bisa kau bangun sekarang? Kau ini berat tau!”
”Yaaadaaa~ Aku kan kurus”
-owari-

OMAKE
*Author POV*
Di depan pintu
TOK.TOK.TOK
”Harruuuuuuuu kau di dalam??? Ayo bukakan pintunya nak~”
Anda tau ini siapa?
Ini adalah ibunya Haru yang sudah berdiri di depan rumah sejak setengah jam yang lalu.  Kehujanan. Kebasahan. Kedinginan. Lapar.
Karena di luar hujan angin yang sangat deras plus petir, jadi tidak ada satu pun yang menyadari dan mendengar kalau Yagisa san sudah mengetuk pintu berkali-kali sejak tadi dan tidak satu pun yang membukakan pintu.
”Harrruuuu~ ini Ibu naaakk~”


aaaaaaa gejeeeeee!!!! ga logis dan penuh pemaksaan. ahahahhah
>.<
Akh! tp kan suka2 saia. saia author ny xp

Label: ,

←Ke Hika // Ke Yabu→
© Theme, codes, graphics by Ths/Schrei Edit: By me :3